Seri Artikel Gen AI #20 : Naskah Akademik: Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Pendidikan Dasar dan Menengah
Seri Artikel Gen AI #20 : Naskah Akademik: Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Pendidikan Dasar dan Menengah
A. LATAR BELAKANG: URGENSI TALENTA DIGITAL
Perkembangan teknologi digital global, termasuk Kecerdasan Artifisial (KA), telah membawa dampak signifikan terhadap berbagai sektor kehidupan. Indonesia saat ini menghadapi tantangan berupa kesenjangan talenta digital dan rendahnya literasi digital. Sementara itu, tuntutan Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0 menuntut kesiapan sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing.
Dalam konteks pembangunan nasional, penguatan kompetensi digital seperti koding dan KA menjadi bagian integral dari visi RPJPN 2025–2045. Integrasi literasi digital dan pemahaman etika teknologi dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah menjadi hal mendesak untuk menjamin pemerataan akses serta kualitas pendidikan di seluruh nusantara.
B. TUJUAN DAN MANFAAT
Naskah akademik ini disusun oleh tim GenAILabs dengan tujuan:
Menyampaikan urgensi pembelajaran koding dan KA dalam konteks pendidikan Indonesia.
Memberikan dasar kebijakan kurikulum dan strategi implementasi pembelajaran digital di sekolah.
Menjadi pedoman bagi pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan dalam merancang pembelajaran berbasis teknologi yang terstruktur dan berkelanjutan.
C. LANDASAN PEMBELAJARAN TERPADU
Implementasi KKA berpijak pada lima landasan utama:
Landasan Filosofis: Merujuk pada pandangan Ki Hadjar Dewantara dan nilai-nilai Pancasila, menekankan pembelajaran yang merdeka dan berakar pada budaya bangsa.
Landasan Pedagogis: Sejalan dengan teori konstruktivisme, Project-Based Learning (PBL), dan Computational Thinking (CT) untuk mengembangkan nalar kritis, logis, dan kreatif.
Landasan Sosiologis: Menjawab tantangan kesenjangan digital yang masih menjadi kendala utama dalam struktur masyarakat Indonesia saat ini.
Landasan Yuridis: Berpijak pada UUD 1945, UU Sisdiknas, RPJPN, serta peraturan menteri terkait kurikulum nasional terbaru.
Landasan Empiris: Mengambil inspirasi dari praktik sukses pembelajaran KA dan koding di negara-negara maju untuk mengejar ketertinggalan global.
D. KONSEP DAN PRAKTIK KODING & KA
Koding bukan sekadar menulis baris perintah, melainkan kemampuan berpikir komputasional dan penyusunan algoritma. Sementara itu, Kecerdasan Artifisial mencakup:
Pemahaman Etika Teknologi.
Pendekatan Human-Centered Mindset.
Pengolahan Data dan Pengenalan Machine Learning.
Negara-negara seperti Singapura, India, dan Korea Selatan telah mengimplementasikan hal ini sejak tingkat dasar. Indonesia harus bergerak cepat mengatasi tantangan keterbatasan infrastruktur dan bahan ajar melalui kolaborasi yang masif.
E. ARAH KEBIJAKAN IMPLEMENTASI
Kurikulum pembelajaran koding dan KA dirancang secara fleksibel dengan tiga opsi implementasi:
Mata Pelajaran Pilihan: Bagi sekolah dengan kesiapan infrastruktur tinggi.
Integrasi Lintas Mapel: Menyisipkan logika koding dalam pelajaran Sains, Matematika, atau Seni.
Kegiatan Ekstrakurikuler: Sebagai wadah eksplorasi minat dan bakat siswa.
Media ajar yang digunakan mencakup platform daring hingga metode Unplugged (tanpa komputer) untuk memastikan sekolah di daerah terpencil tetap bisa melatih logika berpikir siswa.
F. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Pembelajaran koding dan KA adalah kebutuhan fundamental dalam sistem pendidikan modern. Untuk mencapainya, dibutuhkan strategi bertahap, kurikulum adaptif, pelatihan guru yang menyeluruh, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
Dengan langkah ini, Indonesia dapat menyiapkan generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu menjadi inovator dan kontributor dalam dunia digital global.
Dokumen ini merupakan bagian dari misi GenAILabs.id dalam mendigitalisasi pendidikan Indonesia. Silakan bagikan pemikiran Anda di kolom komentar.

