Seri Artikel Gen AI #2: Mengintegrasikan Asesmen dalam Jantung Modul Ajar
Seri Artikel Gen AI #2: Mengintegrasikan Asesmen dalam Jantung Modul Ajar
A. PENGANTAR: ASESMEN SEBAGAI JANTUNG PEMBELAJARAN
Pernahkah Anda merasa sudah bekerja sangat keras menyusun Modul Ajar, tapi saat di kelas, rasanya ada yang "tidak nyambung" dengan siswa? Atau mungkin Anda pernah merasa lelah karena asesmen hanya dianggap sebagai tumpukan soal di akhir bab yang harus dikoreksi?
Jika iya, Anda tidak sendirian. Banyak guru terjebak dalam rutinitas administratif di mana asesmen hanya menjadi "pelengkap penderita" di lampiran dokumen. Padahal, merujuk pada regulasi terbaru, asesmen adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan proses pembelajaran itu sendiri. Mari kita obrolkan bagaimana cara menghidupkan asesmen dalam perencanaan pembelajaran kita dengan cara yang lebih sederhana dan bermakna.
B. DILEMA ADMINISTRATIF: LEBIH DARI SEKADAR NILAI
Mari jujur: seringkali kita membuat asesmen karena "instruksi kurikulum" atau sekadar memenuhi kolom di Modul Ajar. Akibatnya, muncul fenomena copy-paste soal tanpa sempat berpikir apakah soal itu masih relevan dengan kebutuhan siswa saat ini.
Efeknya terasa di kelas. Kita memberikan nilai, tapi siswa tidak berkembang. Kita sibuk mengoreksi, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya perlu diperbaiki dalam proses belajar mereka. Inilah saatnya kita mengubah sudut pandang: asesmen bukan lagi "vonis" di akhir, melainkan sebuah instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
C. MEMAHAMI ASESMEN LEWAT ANALOGI SEDERHANA
Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan dua analogi ini:
Lampu Indikator di Dasbor Mobil: Asesmen berfungsi seperti indikator bensin atau mesin; ia memberi tahu guru kapan harus "tancap gas" materi atau kapan harus berhenti sejenak untuk memperbaiki pemahaman siswa.
Cek Kesehatan Sebelum Maraton: Anda tidak akan memaksa seseorang berlari tanpa tahu kondisi fisiknya. Dalam Kurikulum Merdeka, ini disebut Asesmen Awal. Fungsinya untuk memetakan kesiapan, minat, dan profil belajar siswa agar pembelajaran tepat sasaran sejak hari pertama.
D. TIGA PILAR UTAMA: FOR, AS, DAN OF LEARNING
Berdasarkan regulasi nasional, kita perlu menyeimbangkan tiga fungsi asesmen di dalam Modul Ajar:
Assessment for Learning: Dilakukan selama proses untuk memberikan umpan balik bagi guru dan siswa guna memperbaiki cara mengajar dan belajar.
Assessment as Learning: Siswa belajar memantau belajarnya sendiri melalui refleksi diri dan penilaian sejawat. Ini adalah kunci metakognisi.
Assessment of Learning: Dilakukan di akhir periode untuk memastikan sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai.
E. DEEP LEARNING: MENILAI KOMPETENSI MASA DEPAN
Pembelajaran yang mendalam tidak hanya menilai hafalan. Kita perlu mengasah kompetensi global 6C (Character, Citizenship, Collaboration, Communication, Creativity, dan Critical Thinking). Guru memiliki keleluasaan dalam memilih teknik asesmen yang variatif:
Observasi: Mengamati perilaku dan keterampilan siswa secara langsung.
Performa: Tugas berupa presentasi, simulasi, atau produk nyata.
Portofolio: Kumpulan karya siswa yang menunjukkan perkembangan belajar secara otentik.
F. DESAIN MUNDUR: MENENTUKAN TUJUAN SEBELUM BERANGKAT
Dalam menyusun Modul Ajar, gunakan prinsip Desain Mundur (Backward Design):
Tentukan Tujuan Pembelajaran (TP): Apa kompetensi yang harus dikuasai siswa?
Rancang Asesmen: Bukti apa yang bisa meyakinkan bahwa mereka sudah paham? Tentukan kriteria ketercapaian (KKTP) yang jelas.
Rancang Aktivitas: Susun langkah pembelajaran yang menuntun siswa menuju bukti ketercapaian tersebut.
G. MENGHINDARI "JEBAKAN BATMAN" DALAM ASESMEN
Ada beberapa kesalahan umum yang perlu kita hindari:
Ketergantungan pada Tes Tertulis: Mengabaikan proses dan hanya fokus pada skor angka.
Tanpa Umpan Balik Deskriptif: Memberikan nilai tanpa memberi tahu siswa bagaimana cara meningkatkannya.
Mengabaikan Asesmen Awal: Mengajar semua siswa dengan cara yang sama tanpa peduli titik berangkat mereka berbeda-beda.
H. PENUTUP: TEKNOLOGI SEBAGAI AKSELERATOR
Zaman sekarang, guru bisa memanfaatkan bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk mempermudah penyusunan asesmen. Di GenAILabs, kami mengeksplorasi bagaimana AI bisa membantu guru membuat variasi soal yang kreatif hingga menyusun rubrik penilaian yang objektif dalam hitungan detik. Teknologi adalah alat, namun guru yang memahami esensi asesmen tetaplah pengendalinya.
DAFTAR RUJUKAN
BSKAP. (2025). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah. Jakarta: Kemendikdasmen RI.
Fullan, M., et al. (2018). Deep Learning: Engage the World Change the World. Corwin.
WNCP. (2006). Rethinking Classroom Assessment with Purpose in Mind. Manitoba Education.
Simak terus seri artikel GenAILabs untuk mendalami bagaimana teknologi mendukung transformasi pendidikan Indonesia!
